he he

he he


Start date: Monday, November 26th 2012
End date : Monday, December 10th 2012
From 09:00 AM Until 10:00 PM
Place : Jl. Graha Merdeka No. 18



ARTIST IN THIS EXHIBITION...

Cundrawan

Cundrawan

Dewa Ngakan Made Ardana

Dewa Ngakan Made Ardana

Hubertus Maureno Kustarjo

Hubertus Maureno Kustarjo

I Gusti Nengah Sura Ardana

I Gusti Nengah Sura Ardana

I Nyoman Suarnata

I Nyoman Suarnata

Ida Bagus Indra

Ida Bagus Indra

Ida Bagus Puspa

Ida Bagus Puspa

Ida Bagus Putu Purwa

Ida Bagus Putu Purwa

Ida Bagus Tilem

Ida Bagus Tilem

Nyoman Sujana Kenyem

Nyoman Sujana Kenyem

Tien Hong

Tien Hong

Tri Wahyudi

Tri Wahyudi

Wayan Kun Adnyana

Wayan Kun Adnyana

Wayan Suja

Wayan Suja


SEE THE EXHIBITION GALLERY HERE!


About he he...

HE we ar(t)e HEre we ar(t)e the same
Richard Horstman

During the course of 2010 -12 the Indonesian modern and contemporary art world ventured into its most challenging times of the modern era.
Certain questionable circumstances prevailed and due to the sensitivity and the interconnectivity of the infrastructure the resulting confusion cast a shadow over the Indonesian art world.
What is significant is that this situation now provides a fertile environment for opportunities and the possibility of a new era in the Indonesian contemporary art world to be revealed. The need to create infrastructures that include a future vision and mission based on shared community values may be the most practical and responsible solution.
While debate continues in Jakarta about this complex scenario and equitable outcomes, let us take this opportunity to readjust our focus upon a purer source of creativity.
The Maha Art Studio is a new facility in Renon, Bali that supports the sovereignty of independent creative expression. This is an open space, in a neutral environment free from the hindrance of commercial structures. Maha Art Studio’s emphasis is to serve the community and future generations, and the myriad of creative expressions that is to be found on Bali with a venue to nurture creative ideas and projects and to strive for new artistic territory.
Bali has evolved into a “global village”. Its inhabitants include the indigenous orang Bali, and Indonesians from across the archipelago, as well as people from many countries and every continent in the world. The “Island of the Gods” is now home to an extraordinary melting pot of cultures and creative talents. Given time, new and diverse modes of culture will be born form this amazing fusion and will be supported by the unique and nurturing Mother Earth essence that Bali is internationally renown for.
In celebration of the grand opening of the Maha Art Studio, and a new chapter in the development of Maha Art , Bapak Agus Maha Ushada takes this opportunity to concentrate our sentiments onto the source that truly inspires us honest artistic creativity.
The exhibition “HeHe – Here We Ar(t)e, Here We Ar(t)e The Same” opens on the 26th November and continues until the 10th December 2012 and showcases the work of 14 talented contemporary fine artists from Indonesia.
Artists Ida Bagus Puspa,Ida Bagus Purwa, Ida Bagus Indra,Ida Bagus Tilem, Gusti Nengah Ardana, Wayan Suja, Wayan Kun Adnyana, Nyoman Kenyem Sujana, Dewa Ardana, Nyoman Suarnata, Cundrawan,Tien Hong, Reno and Tri Wahyudi present emotional responses that reflect on their perspective of the human experience.
Contemporary art and its array of imagery, languages, narratives and symbols has the unique potential to profoundly effect both those who practice its disciplines, as well as those who observe it.
Via art we may connect with the soul and become inspired (in spirit) to forge ahead with new endeavors. Its magic creates realms for us to achieve self-liberation. Art stirs our imagination and allows us to dream of infinite possibilities. Art honors the genius and the master that resides inside each and everyone one of us, and Art allows us to reflect upon the loving nature of life itself - creativity.
This exhibition is an invitation to the community to celebrate our wholeness and our diversity, our collective creative spirit and our with the divine. Humanity is interconnected by an invisible energetic fabric within a unified field that is without separation from the cosmos. Our role is to manifest a harmonic future for the collective via the truth of our open hearts and to trust that all obstacles that we may face can be resolved through the creative power of love.

SENI LUKIS PADA ZAMAN “HE HE”
Oleh Arif Bagus Prasetyo


MEMBUKA lembar pertama aktivitasnya di lokasi baru, Maha Art Gallery menggelar pameran seni rupa bertajuk unik, HEHE: HEre We Ar(t)e, HEre We Ar(t)e the Same. Judul pameran ini tidak menganjurkan “kesamaan”, tapi menyerukan “kebersamaan”. Diikuti oleh 14 perupa, pameran ini menampilkan sepilihan karya lukis dengan beragam kecenderungan dan karakteristik. Para perupa mengartikulasikan gagasan, rasa dan karsa mereka sesuai dengan keyakinan estetik dan pilihan artistik pribadi masing-masing. Mereka mengeksplorasi imajinasi kreatif dalam bermacam ekspresi. Bukan keseragaman, karya mereka justru menawarkan keragaman tema, gaya maupun teknik.
Ungkapan “Here We Ar(t) the Same” tidak mengacu pada “kesamaan” dan “keseragaman”, melainkan “kebersamaan” dan “kesederajatan”: kebersamaan atau kesederajatan “kami” dan “seni kami”. Para perupa dalam pameran ini seolah menyatakan kepada publik, “Inilah kami dan seni kami. Kami berbeda-beda, seni kami berbeda-beda, tapi berdiri sejajar dan melangkah bersama-sama.”
Semua perupa peserta pameran ini berusia relatif muda. Mereka bagian dari generasi terkini perupa Indonesia yang muncul dalam percaturan seni rupa di Tanah Air kurang-lebih pada dasawarsa pertama abad ke-21. Beberapa dari mereka bahkan tergolong perupa pendatang baru. Mereka semua adalah anak zaman mutakhir. Mereka lahir sebagai perupa pada era ketika “Dalam seni lukis dewasa ini, segalanya boleh, anything goes,” tulis Karl Ruhrberg dalam Art of the 20th Century (2002).
Dewasa ini, aneka ragam ekspresi dan pemikiran seni rupa dari seluruh penjuru dunia sama-sama sah, berdiri sejajar antara satu sama lain. Tidak ada lagi corak artistik yang dapat dipandang mengungguli corak lainnya. Tidak ada teori estetika garda-depan (avant-garde) yang begitu visioner hingga melampaui zamannya. Tidak ada pihak yang mampu secara konsisten menjaga standar yang dianggap “benar”. Inilah era ketika apapun yang diniatkan sebagai “seni” oleh seniman adalah sah: sebuah zaman “demokratisasi seni”. Kini tidak ada lagi seni “tinggi” atau “rendah”, karena semuanya dipandang sederajat. Here We Ar(t)e the Same.
Demokratisasi seni boleh dibilang fenomena khas dalam percaturan seni rupa kontemporer. Jim Supangkat, dalam Contemporaneity (2010), mencatat bahwa seni rupa kontemporer berkembang seiring dengan tumbuhnya keragaman luar-biasa dalam pemikiran dan teori sejak dekade 1970-an yang bersama-sama melawan “modernisme sebagai lembaga”. Namun seiring berlalunya waktu, keragaman wacana seni rupa kontemporer itu menimbulkan masalah. Terjadi kekurangan mediasi dalam kritik seni, karena ada terlalu banyak pandangan dan acuan. Dalam situasi demokratisasi seni seperti sekarang, “Kritik seni begitu banyak diproduksi, dan begitu banyak diabaikan,” komentar sejarawan seni, James Elkins, sebagaimana dikutip Supangkat.
Di dunia seni rupa kontemporer yang merayakan keragaman dan kesederajatan, wilayah penilaian estetis memang menjadi problematis. Kini tidak ada lagi standar yang berlaku universal dan berwibawa untuk menilai mutu karya seni rupa. Namun melemahnya, atau bahkan menghilangnya, standar penilaian seni bukan berarti bahwa pada kenyataannya, semua karya seni rupa diakui bernilai sama. Karya seni masih dipandang berbeda-beda nilainya, tapi penentu nilai itu bukan lagi estetika, disiplin yang merupakan wilayah kritik(us) seni.
Meredupnya kritik seni sebagai lembaga nilai bukan berarti tidak ada lagi penilaian seni. Alih-alih, penilaian seni kini lebih banyak ditentukan oleh lembaga lain yang sangat berpengaruh dalam medan sosial seni rupa kontemporer: lembaga komersial. Supangkat mencatat bahwa memasuki abad ke-21, “Art fair telah menjadi tonggak dalam perkembangan seni rupa kontemporer.” Dua faktor penyebabnya adalah perkembangan pasar seni rupa (art market) dan proses globalisasi. Dalam pengamatan Supangkat, proses globalisasi mendorong pertumbuhan art market yang menyebar ke seluruh penjuru dunia sejak dekade 1990-an.


Ekspresi Diri dan Representasi Diri

Globalisasi bukan saja menghapuskan tapal-batas nasional, tetapi juga mengaburkan identitas-identitas. Dari sudut pandang kebudayaan, proses globalisasi berisiko menimbulkan homogenisasi kultural. Keragaman identitas, terutama identitas kultural, bisa lenyap tersapu derasnya arus pusaran modal, informasi dan interaksi berskala global. Tak heran, problem identitas menjadi salah satu wacana penting dalam seni rupa kontemporer yang menjunjung keragaman, tapi ditopang oleh proses globalisasi yang justru berdampak menyeragamkan.
Para perupa dalam pameran ini adalah anak zaman globalisasi. Mereka tampak menaruh perhatian besar terhadap problem identitas. Perhatian ini tersirat dari beragam karya lukis yang dapat dibaca sebagai merefleksikan fenomenologi “diri” (self). Dengan cara masing-masing dan sampai batas tertentu, karya mereka menyuarakan suatu gagasan tentang diri. Ada dua jalur artikulasi yang dipilih. Sebagian perupa menempuh jalur “ekspresi diri” (self-expression), sebagian perupa lainnya mengambil jalur “representasi diri” (self-representation).
Cundrawan, Sura Ardana, I.B. Puspa, Tien Hong dan Reno terlihat memusatkan perhatian pada eksplorasi unsur ekspresi diri untuk membangun pemahaman tentang hakikat diri. Diri dimaknai sebagai “jiwa”, dan pemaknaan ini ditampilkan melalui representasi visual metaforis tentang aktivitas kehidupan batin.
Pada lukisan potret Cundrawan, Sura Ardana dan Reno, penggambaran realistik dari wajah manusia bukan upaya untuk mengejar kemiripan dengan realitas, melainkan ikhtiar untuk menggali karakter, temperamen atau identitas diri. Ekspresi wajah ditekankan untuk mencerminkan gerak jiwa. Wajah memantulkan aktivitas emosional di kedalaman diri.
Pada karya I.B Puspa (“Mengejar Impian”), konsep tentang diri sebagai “jiwa” diungkapkan dengan ekspresi wajah, sikap tubuh, dan terutama kontras gelap-terang. Puspa memberikan penekanan kuat pada cahaya sebagai metafora visual dari jiwa, esensi diri. Sementara pada lukisan abstrak Tien Hong, konseptualisasi diri sebagai “jiwa” terefleksikan dari gerak gestural sapuan kuas pada kanvas yang merekam gerak jiwa sang pelukis. Konseptualisasi ini juga terpancar dari lukisan “Just Breath” karya Reno yang menggambarkan benda sebagai seolah-olah bernyawa, seakan memiliki “jiwa”.
Para perupa lain dalam pameran ini tampak berpegang pada gagasan “representasi diri”. Berbeda dari gagasan “ekspresi diri” yang mengutamakan dimensi personal, gagasan “representasi diri” memberikan penekanan lebih besar pada dimensi sosial: bahwa diri adalah suatu konstruksi sosial. Diri dipahami dalam kaitannya dengan proses-proses makro, yakni budaya, etnisitas, tatanan sosial dsb. Ada berbagai konvensi sosial yang membentuk apa artinya menjadi diri atau memiliki diri. Sebagaimana disimbolkan oleh kawanan bebek dalam lukisan I.B Tilem atau kerumunan manusia yang bergumul memperebutkan ruang hidup dalam karya I.B Purwa, makna “diri” selalu terikat pada dinamika proses kolektif.
Lukisan Kenyem, I.B Indra dan Triwahyudi menyiratkan paham kedirian yang tak terpisahkan dari proses sosialisasi dalam konteks budaya tertentu. Karya Kenyem dan I.B Indra diresapi pandangan bahwa diri adalah suatu kontinuitas atau keajekan yang berakar kukuh pada satu sumber hakiki, yakni budaya tradisional Bali. Sebaliknya, konseptualisasi diri yang membayangi lukisan Triwahyudi terlihat ironis, karena diri dikonstruksi secara fragmentaris dari sumber majemuk. Akar budaya tradisional hanya salah satu dari berbagai sumber makna yang menyusun kompleks pemahaman Triwahyudi tentang diri.
Ironi juga merebak dari konseptualisasi diri yang disodorkan Kun Adnyana, Suja, Suarnata dan Dewa Ardana. Lukisan “The New Sphinx” karya Kun Adnyana menawarkan konsep tentang diri sebagai hibrida kultural, diri sebagai “frankenbaby” yang dihasilkan dari laboratorium rekayasa sosial. Melalui simbol kemasan plastik yang menjadi “trade mark” karya-karyanya, Suja menyoroti proses difusi kultural dan asimilasi kultural yang secara intensif turut membentuk pemahaman tentang diri di era global: bahwa hakikat dan makna diri kian dipengaruhi oleh penyebaran karakteristik satu kebudayaan ke kebudayaan lain, dan dominasi sistem budaya tertentu terhadap sistem budaya lain. Pandangan tentang diri yang dikonstruksi melalui proses integrasi kultural, yakni proses yang melibatkan pertemuan atau percampuran dua atau lebih sistem budaya berbeda, menyeruak dari simbolisme sapi dalam lukisan Suarnata. Dengan mengadopsi efek-efek reproduksi mekanis gambar, Dewa Ardana memeragakan kekuatan rekayasa citra dalam memformat pemaknaan tentang diri.
Sudah jelas, bagi para perupa dalam pameran ini, globalisasi adalah proses historis yang tak terelakkan. Dengan segala berkah dan risikonya, globalisasi harus diterima, tapi tetap disertai sikap kritis.