Bali Alert!

Bali Alert!


Start date: Wednesday, March 19th 2014
End date : Friday, March 21st 2014
From 07:00 PM Until 10:00 PM
Place : MAHA ART GALLERY, GRAHA MERDEKA UNIT 18 - Jl. Merdeka, Renon, Denpasar Bali Telp. 0361 8424542

About Bali Alert!...

OPENING : 19 Maret 2013
Jam 19.00 WITA

Made Bayak | Alit Ambara | Vifick | Anggara Mahendra | Komang Adiartha | Silynat | Gede Sayur | Wild Drawing | I Made Slamet Wiyasa (Memet) | Sudarna Putra (Nano) | I Nyoman Sudarma | I Wayan Marsana | Helena Arway | I Wayan Wirawan I Genetik.

live music
Nuansa Hijau
Patrix the bastard
Krisna.
Rapist antagonist

BALI ALERT!
Partisipasi Seni Peringatkan Perubahan Bali

Bali adalah surga, jadilah inspirasi Bali (dengan logat kental Bali) demikianlah penggalan sebuah iklan dalam stasiun TV lokal.

Bali sangat identik dengan tujuan wisata dunia,
keindahan alam Bali telah lama menarik banyak
orang untuk datang, masyarakat yang ramah, apolitis,
bergelut dengan seni hampir setiap saat, dengan
kebudayaan Hindu Bali yang masih kental terasa
sampai hari ini. Namun kita belum paham
bahwa itu semua adalah hasil bentukan masa kolonial
dan kita semua seolah-olah hanyut dan percaya
dengan semua “gambaran” itu.

Sangat sedikit catatan yang mengungkapkan Bali dari persepektif yang berbeda, jika pun ada, biasanya pasti dicap perusak budaya Bali atau bukan orang Bali, sedangkan dari sedikitnya catatan tersebut, pernah dituliskan bahwa Bali di masa awal sejarah kerajaan Bali sering terjadi konflik antar raja-raja kecil, pertentangan kelas, bagaimana saat pemilu pertama tahun 55 Banyak antagonism orang Bali terlihat dan puncaknya adalah saat tragedy 65-66, hampir 80.000 nyawa orang Bali hilang saling baku bunuh sesama warga Bali.

Masuknya pariwisata telah merubah tatanan kehidupan masyarakat Bali secara mendasar, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, dimana kepemilikan akan lahan-lahan produktif mendapat cobaan paling besar saat ini, karena alih fungsi lahan pertanian menjadi belantara Benton dan segala bentuk fisik penunjang sarana pariwisata lainya. Generasi Bali sendiri yang dulunya menjadi pelaku utama dari sistem yang ada, salah satunya dengan mengarap tanah pertaniannya, saat ini malah lebih banyak memilih menjadi pekerja di sektor pariwisata saja.

Permasalah baru muncul seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pembangun fisik yang tidak terkontrol, kita tidak siap dengan perubahan radikal ini. Permasalahan sosial dari pertikaian warga perebutan area kuburan sampai tapal batas desa, tidak meratanya pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari masih banyaknya anak putus sekolah dan harus membantu mencukupi ekonomi keluarga, disatu sisi ada daerah yang demikin melimpah dalam penggunaan air bersih, disisi lain di pulau ini ternyata ada masyarakatnya yang harus bersusah payah untuk mendapatkannya, bagaimana rakusnya investor yang ingin membangun sarana wisata baru yang mengabaikan dampak sosial dan lingkungan Bali, belum lagi permasalahan dan pengelolaan sampah yang sampai saat ini masih belum mendapatkan pemecahan.

Demikianlah kira-kira ide dari pameran ini, adalah untuk melihat “perubahan” Bali dari sisi yang lain, bukan bermaksud untuk “menjelekan” Bali namun sebagai sarana jeda dan refleksi diri masing-masing, sehingga ada ruang kita berfikir ulang tentang Bali dan Budaya Bali itu sendiri yang selama ini telah kita yakini bersama.